Tips Memakai Tali Rambut untuk Para Hijaber

Tips Memakai Tali Rambut untuk Para Hijaber

Wanita berhijab tentunya menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengikat rambut agar tidak merepotkan. Tapi anda harus berhati-hati, karena jika terlalu lama diikat kemungkinan bisa menyebabkan rambut anda menjadi mudah patah dan rontok.

Rambut merasa tersiksa ketika anda mengikatnya terlalu erat. Ditambah lagi cuaca terik yang membuat kulit kepala menjadi berkeringat.
Dibutuhkan ketelatenan untuk merawat rambut berhijab. Terutama dimulai dengan cara anda mengikat rambut. Untuk itu, anda bisa mengikuti tips yang dilansir dari laman Fustany di bawah ini:

1. Rambut Basah
Janganlah mengikat rambut dalam keadaan basah. Hal itu dikarenakan rambut berada pada kondisi paling rapuh ketika basah. Mengikatnya hanya akan membuat rambut rontok perlahan-lahan. Selain itu, mengenakan hijab dalam keadaan rambut basah bisa menjadi penyebab kepala menjadi berbau tidak sedap.

2. Disisir
Sisirlah rambut setiap hari untuk menyingkirkan debu dan kotoran di kulit kepala. Menumpuknya debu dan kotoran bisa membuat kulit kepala menjadi tidak sehat sehingga mempengaruhi akar rambut. Pastikan menyisir rambut dengan gerakan lembut sehingga tidak rontok

3. Terlalu Kencang
Janganlah mengikat rambut terlalu kencang. Hindari mengikat rambut dengan melakukan terlalu banyak ikatan. Mengikat rambut terlalu kencang hanya akan membuat akar rambut tertarik sehingga memicu rontok dan juga bisa membuat kepala menjadi pusing.

4. Ikat Rambut
Hindarilah menggunakan tali rambut atau ikat rambut yang berbahan plastik. Bahan tersebut tidak lembut bagi rambut anda. Gunakan tali rambut berbahan kain sehingga tidak membuat helai rambut menjadi patah.

5. Hijab
Selain tali rambut, hal lain yang perlu diperhatikan adalah hijab. Mengenakan hijab dengan model terlalu erat juga bisa mempengaruhi kekuatan rambut. Pakailah bentuk hijab dengan model simpel dan sedikit loggar. Hal tersebut penting dilakukan agar rambut dan kulit kepala masih bisa bernapas lega.

Sekian tips memakai tali rambut atau mengikat rambut untuk para hijaber, semoga artikel ini bermanfaat.

Sejarah Kuncir atau Tali Rambut

Sejarah kuncir(taucang) orang Tionghoa di zaman dahulu ada di zaman Qing (1644 – 1911). Kuncir merupakan salah satu bagian mode rambut orang Manchuria. Model batok kepala dibagi dua, yaitu depan dan belakang. Setengah bagian depan kepala dibotakkan sedangkan rambut di setengah bagian belakang kepala dibiarkan panjang dan dikuncir(diikat).
Asal mula kuncir yang menjadi tradisi mode orang Manchuria menurut catatan sebuah buku mengenai orang Manchu yang pernah saya baca yaitu dikarenakan kebiasaan dan budaya orang Manchu. Orang Manchu berasal dari daerah Tiongkok Timur Laut dekat perbatasan Korea. Berasal dari suku Nujen, suku ini merupakan salah satu suku dalam Dinasti Ming. Suku Nujen asalnya dari Kerajaan Kim. Kerajaan Kim adalah kerajaan yang disinggung dalam Pendekar Pemanah Rajawali-nya Jin Yong yang mengambil latar belakang sejarah Dinasti Song.

Orang Manchuria dan orang Mongol adalah suku bangsa yang sama-sama mahir berkuda. Untuk memudahkan berkuda, maka rambut depan mereka dibotakkan dan bagian belakang diikat. Hal tersebut mereka lakukan karena jika tidak dikuncir, rambut akan tertiup angin kencang ke sana kemari. Orang Mongol juga mempunyai kebiasaan menguncir rambut dikarenakan kebiasaan berkuda ini.  Orang Han tidak semahir berkuda orang-orang Mongol dan Manchuria, orang Han yang berkuda biasanya hanya memakai serban(sarung ikat kepala) untuk mengikat rambut mereka. Kemudian tradisi menguncir rambut ini menjadi kebiasaan dan budaya orang Manchuria.

Kaisar ketiga Dinasti Qing, Sunzi atas bantuan Wu San-gui berhasil menerobos Tembok Besar dan menguasai Beijing pada tahun 1644. Sebagai upaya memperkuat legitimasi penaklukan atas orang Han, Sunzi memerintahkan semua orang Han harus memangkas rambutnya sesuai tradisi kuncir orang Manchuria.  Banyak yang melawan perintah ini dan harus dipenggal. Semboyan waktu itu adalah “ingin rambut, penggal kepala; ingin kepala, pangkas rambut”. Banyak dari mereka yang langsung membotakkan kepala dan menjadi biksu untuk menunjukkan perlawanan. Itulah sebabnya mengapa ada orang Tionghoa yang ber-toucang atau ber-kuncir, ada yang tidak di Indonesia. Yang ber-taucang adalah yang datang antara abad 18 sampai awal abad 20. Yang datang sebelumnya tidak mengenal cara ber-taucang dan yang sesudahnya sudah meninggalkan tradisi ber-taucang.

Diawal abad ke-19 dan awal abad ke-20, korupsi didalam birokrasi dan penjajahan setengah oleh bangsa Barat menjadikan Tiongkok menjadi bangsa yang lemah. Pada tahun 1911, Sun Yat-sen melancarkan revolusi Xinhai dan berhasil menumbangkan Dinasti Qing. Sun Yat-sen merupakan salah satu yang menolak berkuncir sebagai bentuk perlawanan terhadap Dinasti Qing. Setelah Republik China berdiri, otomatis tradisi kuncir ini juga menghilang dengan sendirinya bahkan pada orang Manchuria.

Aksesoris Manik

Aksesoris merupakan hal penting dalam fashion, karena bisa memperkuat penampilan. Salah satunya adalah aksesoris manik yaitu aksesoris yang terbuat dari bahan manik. Aksesoris yang terbuat dari bahan manik antara lain: gelang, kalung, bros, dan masih banyak lagi.